| wamen esdm |
Selama ini dokter melakukan monitoring tingkat kolesterol, tekanan darah dan tingkat kegemukan untuk mengukur risiko penyakit jantung. Statistik mulai menunjukkan dengan jelas, tempat lemak bercokol dalam tubuh merupakan hal yang harus diwaspadai karena bentuk tubuh ‘apel’ dimana lemak berkumpul di perut atau bagian tengah badan lebih berbahaya dibandingkan bentuk tubuh ‘pir’ yang besar di bagian bokong atau paha. Penelitian terhadap 7.000 polisi Prancis usia paruh baya yang meninggal pada tahun 1967 hingga 1984 dengan sebab serangan jantung atau penyakit jantung lainnya. Mereka memperhatikan ukuran lingkar pinggang dan BMI (indeks massa tubuh), rasio dari tinggi dan berat badan yang digunakan secara umum untuk mengetahui seseorang mengalami kelebihan berat badan atau kegemukan.
Dr. Xavier Jouven dari INSERM menyatakan pula bahwa kejadian meninggal mendadak itu meningkat karena kepadatan di bagian abdomen atau perut. Selain itu, dalam penelitian tersebut juga mendapati bahwa orang-orang dengan angka BMI yang tinggi tidak berisiko meninggal dini kecuali bagi mereka yang memiliki lingkar pinggang besar. Sebagai patokan, pinggang berukuran 40 inci atau 102 cm sudah merupakan tanda bahaya bagi pria, sedangkan untuk perempuan risiko tersebut meningkat pada lingkar pinggang berukuran 30 inci atau 76 cm.
Tim peneliti itu juga menyimpulkan bahwa orang-orang dengan bentuk tubuh “apel” memiliki kecenderungan untuk menderita simptom jantung spesifik yang bernama disfungsi ventrikular kiri dan disfungsi diastolik yang menjadi standar kinerja jantung dalam memompa darah. Setelah mengamati orang-orang dalam kelompok tersebut yang meninggal dalam waktu lima tahun, mereka menyimpulkan orang yang fungsi diastoliknya rendah dan memiliki ukuran pinggang besar, berkemungkinan meninggal lebih awal.
sumber: inaheart.or.id – mediaindo.co.id/
Comments
Post a Comment