| kesedihan seorang anak |
Beberapa psikolog mengatakan secara umum bahwa tidak ada istilah usia terbaik bagi seorang anak menerima perceraian. Meskipun demikian, dampak yang diakibatkan oleh perceraian sesungguhnya bervariasi sesuai dengan tahap dan umur perkembangan kejiwaan mereka. Setiap orang tua perlu memahami efek dan kebutuhan orang dewasa adalah berbeda dengan anak-anak.
Dalam buku Anthony E Wolf “Why Did You Have to Get a Divorce? And When Can I Get a Hamster?” terdapat perbedaan mendasar dalam memahami perbedaan pada balita. Beberapa diantaranya dapat diuraikan sebagai berikut.
Tahap Usia 0-2 Tahun
Pada usia ini persepsi seorang anak dalam memahami perceraian masih sangat terbatas. Perlu dipahami bahwa bayi belum punya kesadaran nyata tentang perceraian. Efek perceraian pada kehidupan mereka. Isu selanjutnya yang perlu dipahami juga mengenai kedekatan emosional pada orang-orang dalam kehidupan si anak. Seorang anak memerlukan kontak intensif dengan setidaknya satu pengasuh untuk membentuk kelekatan awal dari ikatan cinta.
Kelekatan ini tentu akan menjadi dasar untuk sebuah pencapaian kesejahteraan diri (well-being). Unsur perasaan dicintai dan diistimewkan, serta akan membentuk kapasitas cinta seorang anak di masa yang akan datang. Namun, dalam kejadian perceraian dimana anak-anak kecil terlibat. Kehadiran salah satu orang tua yang mencintai, sebagaimana disebutkan sebagai persyaratan mutlak tidak terganggu secara signifikan. Meskipun demikian, kondisi anak dengan dua orang tua yang terlibat akan jauh lebih membantu seorang anak memenuhi kebutuhan akan kasih saying. Terlebih apabila seorang anak dengan orang tua tunggal, biasanya salah satu orang tua tidak akan bisa menemui dia secara teratur ataupun memiliki kontak intensif dengan anak. Hal ini akan juga terjadi apabila salah satunya kemudian pergi dan menikah maka interaksi itupun akan juga berkurang.
Hal lain yang perlu dipahami adalah mempercayakan anak kepada seseorang yang sebelumnya merupakan pasangan. Apakah dia mampu merawat dan memenuhi kebutuhan si anak. Maka dari itu perlu menjaga kontak dengan mantan suami/istri dan berusaha menolong serta membantu demi kenyamanan dan kepentingan anak.
Tahap Usia 2-5 Tahun
Pada tahap ini seorang anak akan menyadari bahwa terjadi perubahan besar dalam keluarga mereka. Seorang anak pada usia 2-5 tahun akan merasa bahwa salah satu dari orang tua mereka tidak akan tinggal lagi di rumah bersama mereka dan hadir pada saat ia membutuhkan. Perasaan kehilangan muncul, seiring dengan munculnya pertanyaan semisal: “Ayah kemana, aku kangen, dan ingin ayah pulang”. Terkadang akan muncul juga pikiran bahwa ketika salah seorang dari orangtua mereka pergi, barangkali orangtua lain pun juga akan pergi.
Perubahan dan kehilang merupakan kedua hal yang menakutkan bagi anak. Rasa percaya bahwa apa yang mereka inginkan selalu akan ada menjadi terganggu. Hal ini tentu akan menjadi penghambat bagi mereka untuk merasa percaya diri. Efek utama dari hal tersebut adalah mereka menarik diri dari pergaulan. Akan butuh waktu lama untuk membangun lagi kepercayaan diri yang terkoyak, disisi lain seorang anak juga akan memerlukan kepastian bahwa kedua orangtuanya masih ada dan tidak akan meninggalkan mereka. Mereka mungkin masih kecil dan berusia muda, namun sebagai orangtua mereka berhak mendapatkan penjelasan sederhana yang cukup mudah untuk dimengerti.
Mereka lebih enggan untuk mengambil risiko. Mereka berpegang pada rasa aman yang masih ada, mencoba untuk memastikan bahwa tak akan terjadi lagi kehilangan untuk yang tersisa. Mereka memerlukan waktu untuk membangun lagi kepercayaan diri yang telah rusak. Sementara itu, mereka juga membutuhkan kepastian bahwa Anda masih ada dan tidak akan meninggalkan mereka. Anak mungkin tampak terlalu kecil untuk memahami semua perubahan yang terjadi, tetapi Anda tetap harus memberikan penjelasan sederhana yang cukup jujur untuk dimengerti mereka.
Pengertian baik yang diberikan orangtua akan membantu anak dalam memahami apa yang terjadi. Hal ini tentu akan membawa perubahan dan sedikit membantu kehidupan sang anak. Namun demikian, anak terkadang juga masih bingung terhadap penjelasan dan dukungan yang diberikan kepadanya. Dan pertanyaan-pertanyaan muncul dipikiran mereka mengapa orangtua mereka tidak tinggal serumah. Ini tentu saja merupakan refleksi keinginan merkea agar segala sesuatunya kembali seperti semula.
Perceraian kadang menjadi jalan terakhir untuk menyelesaikan kemelut rumah tangga. Namun perlu dipahami agar hal ini tidak sampai merugikan anak. Barangkali keduanya telah berpisah, namun sebagai orangtua kewajiban untuk memberikan kasih saying kepada anak tetaplah harus dipenuhi. Anak-anak tetap memerlukan kedua orangtuanya dan berharap keduanya menjadi bagian dari kehidupan mereka. Kembali ingat hal-hal dasar yang diperlukan dalam pernikahan. Maka dari itu pikirkan sekali lagi! (wd)
Comments
Post a Comment