Landscappist.com - Dalam kisah kasih Anda terdahulu, pernahkah menjadi korban atau setidaknya dirugikan oleh pasangan yang matrealistis? Mereka tiada henti menghisap materi layaknya lintah darat. Belum lagi kasus pura-pura cinta demi uang. Tak heran banyak yang berusaha membalas dendam hingga bertindak hal yang serupa.
Namun tahukah Anda sisi lain seseorang yang matre itu? Pastinya mereka tak serta merta menjadi matre dengan sendirnya. Setidaknya Anda juga punya kewajiban mengetahui penyebab mengapa mereka begitu mengutamakan materi dibandingkan dengan cinta.
Usut punya usut, masa kecil yang kurang bahagia ternyata menjadi salah satu pemicu sang anak tumbuh menjadi matre hingga terbawa seterusnya ke masa dewasa. Kendati materi bukanlah patokan atau ukuran sebuah kebahagiaan, namun masa kecil yang terlanjur terjadi tanpa kebahagian menjadikan mereka mencari tempat pelarian yang nyata wujudnya. Ya materi bagi mereka mampu menjadi pengganti sesuatu yang tak terlihat yang tak mereka dapatkan sebagai pemuas dahaga kebahagiaan yaitu kasih sayang.
Para anak yang tak mendapatkan kasih sayang biasanya menjadikan beberapa media sebagai “teman setia” bagi mereka. Di media tersebut pun berbagai macam pengetahuan serta banyak hal baik serta buruk dengan mudah masuk dalam diri anak. Sedangkan jika ditelisik lebih jauh, tayangan media sebagian besar berisikan materi seperti iklan produk yang menawarkan kebahagiaan dengan materi.
Lihat saja betapa mahirnya iklan di media yang seolah kebahagiaan atau kesenangan dapat hadir sekejap jika Anda mampu membeli produk yang ditawarkan. Bayangkan saja jika hal tersebut terjadi pada anak yang kesepian, apalagi anak yang belum mampu berpikir utuh dengan mudah akan percaya dan menanamkan pola pikir bahwa kebahagiaan bersifat materi. Singkatnya, semakin bahagia anak, maka semakin ia menjauh dengan sesuatu yang bersifat materi. Sebaliknya mereka yang kurang bahagia mencoba mencari pemenuhan kebahagian yang sementara ini bisa ditebus dengan materi.
Jadi itulah sisi lain mereka. Masa kecil saja sudah mendapatkan bencana kekurangan cinta. Akibatnya krisis kepercayaan terhadap cinta tak bisa sembuh dengan sendirinya hingga dewasa. Jadi maklum saja jika ia tak pernah puas dengan materi, sesuatu yang tak pernah ia dapatkan semasa kecil yang membuatnya bahagia.
Maka penting bagi Anda untuk kelak mendidik anak dengan penuh kasih sayang. Bukan kewajiban memanjakan mereka dengan harta. Isi pendidikan kejiwaan mereka dengan rasa cinta, perdamaian dan persahabatan. Anda tentu tak ingin memiliki anak yang tak bahagia menjelang masa dewasa. Apalagi jika nanti ia hanya akan menyakiti perasaan orang lain di sekitarnya. (fdh)
Namun tahukah Anda sisi lain seseorang yang matre itu? Pastinya mereka tak serta merta menjadi matre dengan sendirnya. Setidaknya Anda juga punya kewajiban mengetahui penyebab mengapa mereka begitu mengutamakan materi dibandingkan dengan cinta.
Usut punya usut, masa kecil yang kurang bahagia ternyata menjadi salah satu pemicu sang anak tumbuh menjadi matre hingga terbawa seterusnya ke masa dewasa. Kendati materi bukanlah patokan atau ukuran sebuah kebahagiaan, namun masa kecil yang terlanjur terjadi tanpa kebahagian menjadikan mereka mencari tempat pelarian yang nyata wujudnya. Ya materi bagi mereka mampu menjadi pengganti sesuatu yang tak terlihat yang tak mereka dapatkan sebagai pemuas dahaga kebahagiaan yaitu kasih sayang.
Para anak yang tak mendapatkan kasih sayang biasanya menjadikan beberapa media sebagai “teman setia” bagi mereka. Di media tersebut pun berbagai macam pengetahuan serta banyak hal baik serta buruk dengan mudah masuk dalam diri anak. Sedangkan jika ditelisik lebih jauh, tayangan media sebagian besar berisikan materi seperti iklan produk yang menawarkan kebahagiaan dengan materi.
Lihat saja betapa mahirnya iklan di media yang seolah kebahagiaan atau kesenangan dapat hadir sekejap jika Anda mampu membeli produk yang ditawarkan. Bayangkan saja jika hal tersebut terjadi pada anak yang kesepian, apalagi anak yang belum mampu berpikir utuh dengan mudah akan percaya dan menanamkan pola pikir bahwa kebahagiaan bersifat materi. Singkatnya, semakin bahagia anak, maka semakin ia menjauh dengan sesuatu yang bersifat materi. Sebaliknya mereka yang kurang bahagia mencoba mencari pemenuhan kebahagian yang sementara ini bisa ditebus dengan materi.
Jadi itulah sisi lain mereka. Masa kecil saja sudah mendapatkan bencana kekurangan cinta. Akibatnya krisis kepercayaan terhadap cinta tak bisa sembuh dengan sendirinya hingga dewasa. Jadi maklum saja jika ia tak pernah puas dengan materi, sesuatu yang tak pernah ia dapatkan semasa kecil yang membuatnya bahagia.
Maka penting bagi Anda untuk kelak mendidik anak dengan penuh kasih sayang. Bukan kewajiban memanjakan mereka dengan harta. Isi pendidikan kejiwaan mereka dengan rasa cinta, perdamaian dan persahabatan. Anda tentu tak ingin memiliki anak yang tak bahagia menjelang masa dewasa. Apalagi jika nanti ia hanya akan menyakiti perasaan orang lain di sekitarnya. (fdh)

Comments
Post a Comment