| marriage couple/kainsutera.com |
Menyatukan kedua anak manusia kedalam satu jalinan hubungan yang sah terkadang mengantarkan mereka pada masalah yang berujung pada kebuntuan. Apalagi dewasa ini santer terdengar meningkatnya jumlah perceraian, kasus pernikahan dengan perjodohan yang dianggap permulaan sebuah rumah tangga penyiksaan, atau kasus terpaksa menikah dengan orang yang tak dicintai, menikah namun masih teringat kekasih di masa lampau, banyak sekali kisah minor yang tak dapat disepelekan dibalik sebuah sakralnya sebuah ikatan pernikahan.
Jika Anda berada pada lingkup kehidupan rumah tangga yang bahagia, anggap saja tulisan ini sekedar wacana yang membuka pintu pengetahuan lain yang semoga membuat rasa syukur Anda bertambah untuk menjadikan rumah tangga semakin baik, jika Anda yang yang termasuk dalam lingkaran kasus pelik di atas, anggap saja ini sebuah tulisan penyemangat Anda agar lebih baik mempertahankan dan sekaligus sebagai motivasi Anda untuk bangkit, sementara bagi Anda yang menikah, bisa menjadikan bahan pertimbangan bahwa gerbang pernikahan bukan sebuah permainan dan bisa jadi menjadi awal sebuah ujian yang lebih tinggi kelasnya.
Terlepas dari berbagai masalah yang melanda maupun banyaknya tekanan batin yang dirasakan manakala harus menikah dengan seseorang yang bukan pilihan hati, entah itu perjodohan, keterpaksaan, “kecelakaan” bahkan bisa jadi akibat perselingkuhan, sadarkah Anda bahwa pernikahan itulah makna “cinta sejati” yang sesungguhnya bagi diri Anda sendiri. Bagaimana bisa? Jika saja menikah dengan pilihan hati bisa berakibat tekanan batin apalagi dengan dia yang bisa jadi Anda benci?
Sadar maupun tidak, peran Tuhan selalu menjadi hal yang dominan dalam hidup ini. Pertemuan dengan dia yang akhirnya diberi nama “jodoh”, hingga kelancaran proses hubungan hingga pernikahan menjadi sah, semua itu menjadi hak Tuhan yang menentukan dengan siapa Anda menghabiskan sisa hidup Anda kelak. Mereka yang telah menjadi pasangan “tetap” Anda saat ini adalah seseorang yang dipilihkan Tuhan yang dirasa tepat sesuai dengan kebutuhan serta memang tepat untuk kebaikan hidup Anda. Dia adalah orang yang terpilih dan terseleksi melalui “seleksi alam” kisah cinta yang tak bisa diduga akhirnya.
Sekeras apapun Anda berusaha bersanding dengan dia yang Anda inginkan, belum tentu Tuhan merestuinya. Sementara Tuhan justru mengijinkan Anda bersama orang lain yang belum mampu menjadi sosok idaman di hati. Memang tak akan ada sesuatu sekecll apapun dapat terjadi tanpa seizin-Nya. Dan tak ada satupun kejadian yang tak bermakna.
Itulah mengapa Anda diminta berpikir ulang sedemikian hingga ketika merasa jenuh dan putus asa untuk meneruskan mahligai pernikahan. Karena tak hanya Anda yang menjadi sorotan, pihak keluarga juga turut andil terbawa dalam arus perbincangan hangat masyarakat.
Cukuplah publik figur yang terpaksa menjadi perbincangan dan menjadi bahan acuan atas beberapa nada minor rumah tangga yang beritanya menghiasi layar kaca. Cinta sejati dalam pernikahan itu terlukis dari bagaimana Tuhan memilihkan pasangan yang tepat bagi Anda. Lalu bagaimana dengan pernikahan yang kesekian kalinya? Apalagi dengan maraknya alasan “bukan/belum jodoh”. Sebenarnya tak ada yang salah dengan alasan di atas. Namun jika ditinjau dengan lebih jauh, terlalu mudah mengatakan alasan tersebut seolah menyiratkan juga bagaimana mereka menggampangkan makna sebuah pernikahan.
Jodoh atau tidaknya, bukankah Tuhan yang awalnya berperan menjodohkan Anda dengan dia? Kisah selanjutnya adalah bagaimana Anda mempertahankannya? Karena Anda yang menjadi pemain utama dalam drama ini? Selayaknya Anda juga bertanggung jawab penuh dengan konsekuensi ini. Kehidupan rumah tangga yang berliku bukan menjadi tanggung jawab perseorangan. Maka kerja sama adalah sebuah solusi mengatasi masalah demi masalah.
Seperti cerminan dan kilauan pernikahan yang menggoda bag mereka yang masih berstatus “sendiri”, pernikahan adalah keterkaitan bagaimana kedua pihak menjaga satu sama lain. Menjaga agar pasangan selalu terlindungi dari prasangka buruk, itulah mengapa bujukan menikah menjadi semakin kuat selain rasa ingin memiliki secara sah menjadi jeritan di dalam dada.
Untuk itu, singkirkan tekanan batin dan “penyiksaan” yang sebenarnya Anda sendiri yang menjadi pemicunya. Daripada menyesali, meratapi dan mengingkari hati Anda sendiri, mengapa tak menjalankan peran yang mulia dengan memaksimalkan tugas istri atau suami. Kesetiaan, kesabaran, keteguhan pada komitmen, semua itu menjadikan kilauan rumah tangga lebih indah dibandingkan permata.
Jadi berhentilah mengeluh dan buatlah derajat Anda semakin tinggi di mata Tuhan. Jodoh tidaknya tergantung Anda sendiri. Bagaimana Anda mempertahankan, bagaimana Anda menjalankan peran sebagai bagian dari rumah tangga itu sendiri, bukankah itu menjadi peran mutlak Anda? Selebihnya serahkan pada Tuhan, biarkan Dia menilai dan memberikan imbalan yang tepat untuk Anda/ tentu saja mengingat betapa Maha pengasih dan penyayangnya Dia, akan ada berlipat-lipat balasan indah menanti Anda. (fdh)
Comments
Post a Comment