Landscappist.com - Hallo Landscapper, masih kuat kan puasanya? Semoga masih tahan ya. Jangan lupa ibadah sunnahnya, ya. Oke, siapa yang suka facebook? Atau suka upload foto-foto? Sekali lagi, dunia teknologi yang semakin canggih membuka peluang bagi Anda untuk menonjolkan diri dan kemampuan. Maka tak heran ada juga pria yang kelewat batas mengekspose dirinya di media komunikasi.
Tak hanya media komunikasi atau media sosial, terlalu berlebihan mencintai, menyanjung diri sendiri hanya akan membuat Anda sebagai pria rentan mengalami stres. Penelitian baru menunjukkan bahwa narsisme terutama pada kaum Adam dapat berhubungan dengan stres yang dampaknya tak baik untuk tubuh.
Jangan sembarang menilai definisi narsisme. Jika Anda terlalu berlebihan menjunjung harga diri, kurang berempati, dan lebih suka menuntut hak daripada melakukan kewajiban, maka secara positif Anda termasuk dalam kategori narsistik.
Penelitian yang dilakukan di tahun 2010 ini melibatkan relawan 106 mahasiswa Amerika dengan komposisi 79 wanita dan 27 pria dengan usia rata-rata 20 tahun. mereka mengisi semacam kuesioner narsistik dan pengukuran terhadap kortisol, hormon yang bertugas menjadi patokan ukuran stres. Kortisol tinggi sama artinya dengan stres kejiwaan yang tinggi pula.
Hasil pengisian kuesioner menunjukkan bahwa pria memiliki komponen narsime yang tidak sehat dan tingkat kortisol yang tinggi. Penyebab narsisme pada pria bisa jadi berupa pandangan yang rentan pada diri sendiri. Seringkali mereka melakukan tindakan berlebihan jika keberadaan superioritasnya terancam.
Narsisme berarti menutut kesempurnaan atas dirinya sendiri. Jadi ada sedikit saja indikator yang menurun yang tak sesuai dengan kesempurnaan yang diharapkan pria, maka tak heran tingkat stres yang tinggi siap membayangi.
Jika dipikir-pikir, mengapa bukan para wanita yang sindrom ini? Bukankah mereka yang lebih memperhatikan penampilan? Sekalipun sama-sama narsis, namun dunia pria yang penuh dengan maskulinitas ternyata tetap menjadi acuan dan penyebab stres itu tinggi.
Dunia pria memang lebih keras terbukti pada beban dan tanggung jawab yang diberikan terlihat lebih kompleks dari kaum Hawa. Barangkali kekurangan wanita masih dapat diterima antar kaum wanita itu sendiri. Sedangkan dunia pria seakan penih dengan persaingan dan arogansi.
Jadi pemujaan pada diri sendiri yang kelewat berlebihan hanya akan berefek bagaikan bumerang, senjata yang dapat melukai diri sendiri jika tak mampu mengendalikannya dengan baik. Jika narsisme mampu membuat Anda terpacu meningkatkan prestasi dan membuat Anda bersemangat meraih mimpi, maka narsisme bisa menjadi cambuk positif bagi Anda. Namun jangan terlalu berlebihan dan sombong, karena bahaya seperti stres mengintai di belakang Anda. (wd)
| man understress/stresden.com |
Tak hanya media komunikasi atau media sosial, terlalu berlebihan mencintai, menyanjung diri sendiri hanya akan membuat Anda sebagai pria rentan mengalami stres. Penelitian baru menunjukkan bahwa narsisme terutama pada kaum Adam dapat berhubungan dengan stres yang dampaknya tak baik untuk tubuh.
Penelitian yang dilakukan di tahun 2010 ini melibatkan relawan 106 mahasiswa Amerika dengan komposisi 79 wanita dan 27 pria dengan usia rata-rata 20 tahun. mereka mengisi semacam kuesioner narsistik dan pengukuran terhadap kortisol, hormon yang bertugas menjadi patokan ukuran stres. Kortisol tinggi sama artinya dengan stres kejiwaan yang tinggi pula.
Hasil pengisian kuesioner menunjukkan bahwa pria memiliki komponen narsime yang tidak sehat dan tingkat kortisol yang tinggi. Penyebab narsisme pada pria bisa jadi berupa pandangan yang rentan pada diri sendiri. Seringkali mereka melakukan tindakan berlebihan jika keberadaan superioritasnya terancam.
Narsisme berarti menutut kesempurnaan atas dirinya sendiri. Jadi ada sedikit saja indikator yang menurun yang tak sesuai dengan kesempurnaan yang diharapkan pria, maka tak heran tingkat stres yang tinggi siap membayangi.
Jika dipikir-pikir, mengapa bukan para wanita yang sindrom ini? Bukankah mereka yang lebih memperhatikan penampilan? Sekalipun sama-sama narsis, namun dunia pria yang penuh dengan maskulinitas ternyata tetap menjadi acuan dan penyebab stres itu tinggi.
Dunia pria memang lebih keras terbukti pada beban dan tanggung jawab yang diberikan terlihat lebih kompleks dari kaum Hawa. Barangkali kekurangan wanita masih dapat diterima antar kaum wanita itu sendiri. Sedangkan dunia pria seakan penih dengan persaingan dan arogansi.
Jadi pemujaan pada diri sendiri yang kelewat berlebihan hanya akan berefek bagaikan bumerang, senjata yang dapat melukai diri sendiri jika tak mampu mengendalikannya dengan baik. Jika narsisme mampu membuat Anda terpacu meningkatkan prestasi dan membuat Anda bersemangat meraih mimpi, maka narsisme bisa menjadi cambuk positif bagi Anda. Namun jangan terlalu berlebihan dan sombong, karena bahaya seperti stres mengintai di belakang Anda. (wd)
Comments
Post a Comment