| liam neeson/coventrytelegraph.net |
Ternyata sikap yang ramah serta kooperatif ini hanya merupakan strategi milik mereka, pria-pria yang cerdas. Sehingga hilanglah sudah prasangka bahwa kaum hawa yang nampaknya lebih tangguh menghadapi stres. Sedangkan pria diduga lebih terpancing dan mudah melakukan sesuatu yang bersifat agresif.
Seperti yang dilansir dalam Medical Daily (2012), Bernadette Von Dawans yang bertanggung jawab sebagai peneliti menjelaskan bahwa adanya kemungkinan stres mampu membuat pria mengekspresikan perilaku dengan cara pendekatan ke arah sosial.
Penelitian yang dilakukan oleh University of Freiburg ini juga diterbitkan dalam jurnal Psychological Science. Dengan melibatkan 67 relawan mahasiswa laki-laki dari University of Zurich, diadakan uji respon erhadap stres. Penelitian dilakukan dengan meminta sebagian peserta untuk berbicara di depan umum dan menyelesaikan soal matematika yang sulit. Sebagian lagi mendapati hal serupa hanya saja caranya lebih santai.
Kemudian ketika tugas berakhir, para pria ditantang melakukan permainan dengan uang sungguhan yang dipertaruhkan dengan kelompok relawan. Dalam hal ini akan diteliti seberapa besar pria mampu percaya dan berjuang memperebutkan kepercayaan serta deteksi jiwa sosial, akankah ia berbagi atau hanya egois menimbun uangnya.
Penelitian berlanjut dengan diadakannya judi sederhana. Judi dengan bantuan dadu ini merupakan pengukuran seberapa besar tingkat agresivitas peserta. Maka adrenalin untuk mengambil resiko diukur dengan hasil detak jantung dan tingkat hormon stres kortisol yang terkandung dalam air liur.
Lalu diraihlah kesimpulan bahwa dalam kondisi stres justru mampu meningkatkan afiliasi para pria. Bahkan mereka semakin ramah diantara sesama pria. Dalam penelitian ini juga diketahui, semakin tinggi detak jantung dan kadar kortisol maka semakin ttinggi pula rasa percaya dan keinginan untuk mengandalkan orang lain.
Selain itu dijumpai pula perbedaan dalam perilaku mengambil resiko dengan perilaku anti sosial. Sudah dapat dikira mereka yang dalam kondisi tertekan atau stres cenderung memiliki tingkat mengambil resiko yang lebih besar dibandingkan mereka yang bersantai.
Tampaknya memang rasa stres dapat diatasi dengan mendekat dengan sesama seperti perilaku sosial yang baik. Bagi mereka itu semacam obat penenang. Bukankah rasanya juga menyenangkan jika dapat membantu orang lain sekalipun dalam keadaan terjepit.
Jadi setidaknya kita memiliki satu hikmah besar dari penelitian tersebut. Bahwa salah satu “penenang” ketika kita dilanda stres adalah menjalin kebersamaan dengan berafiliasi dengan lingkungan. Jadi tak mungkin Tuhan menciptakan sesuatu yang dapat membuat makhluknya menderita. Tak perlu ragu berbuat baik pada sesama sekalipun kita sendiri juga dalam keadaan yang penih dengan tekanan. (fdh)
Comments
Post a Comment