| angry parent/guardian.co.uk |
Tak hanya menghindarkan ia dari kekerasan fisik yang dampaknya bisa terlihat secara kasat mata. Bahkan kekerasan mental pun bisa membahayakan pada anak dan akan terkenang selamanya sebagai peristiwa traumatik.
Kekerasan secara mental yang kadang tidak disadari para orangtua adalah pengabaian dan kurangnya penghargaan pada anak. Misalnya kekurangan waktu luang untuk anak, terlalu memanjakan anak dengan materi namun tanpa perhatian. Dengan demikian suatu saat anak akan mencari pengganti lain yang mampu membuatnya merasa nyaman. Jadilah ia mencari pelampiasan dengan teman yang sejalan yang biasanya memberikan dampak negatif semisal pergaulan bebas dan konsumsi obat terlarang.
Anda perlu peka dan sensitif dengan perilaku Anda terhadap anak. Berbicara dengan keras di hadapannya dan membuatnya merasa tidak diinginkan adalah salah satu bentuk kekerasan secara mental.
Dalam jurnal pediatrics diungkapkan bahwa kekerasan secara mental bahkan dapat membuat anak tumbuh dengan gangguan perilaku. Selain merusak hubungan anak dengan orangtua, masalah dalam kegiatan belajar, hingga masalah bergaul dengan teman sebayanya.Tak hanya itu, jika dibiarkan secara terus menerus, komplikasinya akan berujung pula dengan kesehatan fisik. Membuat anak tumbuh dengan rasa tidak berharga dapat membuat hidupnya hancur perlahan tapi pasti.
Jadi jangan hanya berbuat baik pada anak secara fisik. Hanya karena merasa kekerasan fisik tak baik untuk mentalnya, maka jangan lupaka kekerasan mental yang bahayanya juga tak kalah fatal. Berhati-hatilah dalam bersikap dan bertutur kata. Pastikan ia merasa berharga kehadirannya untuk Anda, jangan biarkan ia menanggung beban sendirian. Maka kelak ia akan tumbuh dengan baik dan membanggakan Anda.
Bukankah anak adalah gambaran dari diri Anda sendiri? Jadi sekali lagi, jangan remehkan kekerasan secara mental pada anak. (fdh)
Comments
Post a Comment