| menentukan pilihan universitas/webmd.com |
Pada umumnya, ketika anak memasuki jenjang Perguruan Tinggi secara psikologis, di usia 16-17 tahun tersebut si anak telah dianggap mampu membuat keputusan. Pada masa itu mereka mencari jati diri yang bersifat personality transition, bukan pada harapan atau keinginan. Namun, dalam kondisi sebenarnya membuat keputusan akan jurusan pendidikan, ataupun masa depan seharusnya lebih bersifat mengajak anak agar memiliki rasa ingin, hasrat, dan cita-cita.
Kontribusi Orang Tua
Seorang anak hendaknya diharuskan memilih jurusan kuliah dengan peran orangtua. Peran yang dimaksud lebih kepada fasilitator, bukan sebagai penentu keputusan. Peran dan fungsi orang tua dalam situasi ini bukan cuma sekedar sebagai penyandang dana, namun juga pemberi informasi terhadap pilihan yang akan anak ambil. Seringkali informasi- informasi yang tersedia lebih bersifat teknis dan prosedural, dan tidak memberikan gambaran secara mendetail tentang apa yang nantinya ia pelajari, dan konsekuensi ketika telah memutuskan sebuah jurusan. Peran orangtua adalah seperti sumber informasi alternatif. Pertanyaan mengenai bagaimana prospek jurusan tersebut dalam menghadapi dunia kerja kelak, seharusnya bisa dijawab oleh orangtua ketika si anak bertanya tentang sebuah jurusan.
Disisi lain, orangtua seharusnya memiliki alternatif terhadap pilihan anak. Artinya, ketika si anak benar-benar menentukan keputusan, dukungan dan support untuk mereka dapat dilakukan melalui arahan-arahan yang positif. Atau barangkali memberikan alternatif pilihan, apabila memang orang tua melihat kemampuan, minat dan bakat anak berbeda dengan pilihan yang diambilnya. Tentu saja, penjelasan kepada anak yang disampaikan secara bijak, bahwa Anda sangat mengenalnya kemampuannya, sehingga Anda tahu juga kelebihan dan kekurangan si anak.
Hal penting lainnya, adalah komunikasi yang baik dengan anak terhadap segala hal yang dibutuhkannya. Memberikan pandangan adalah bertujuan untuk mematangkan bukan mementahkan. Orangtua memang akan memberikan biaya pendidikan kepada anak, namun bukan berarti memiliki hak yang bersifat otoriter dan mengekang pribadi anak terhadap pilihan hidupnya. Dukungan moral lebih dibutuhkan serta nasehat agar mereka memiliki mental yang kuat dalam membuat keputusan berarti dalam hidupnya. (wd)
Comments
Post a Comment